24 March 2013

MEMPERBAIKI DIRI SENDIRI

share dari link fb ~Bicara Hidayah

MEMPERBAIKI DIRI SENDIRI 

KESEMPURNAAN yang mutlak hanya milik Allah سبحانه وتعالى dan kemaksuman (terpelihara dari dosa) hanya dipunyai oleh Rasul صلى الله عليه وسلم. Adapun diri kita adalah tidak lebih dari seorang manusia yang diliputi beragam kekurangan, baik dari sisi ilmu maupun amal. Kelemahan dalam dua sisi ini atau salah satunya menjadi faktor utama terjadinya ketergelinciran ketika menapaki kehidupan ini. Namun, hendaknya tidak difahami bahwa seseorang baru dikatakan baik jika dia tidak mempunyai kesalahan karena hal ini mustahil, sebagaimana sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم:

♥ ♥ ♥ ♥ “Setiap anak Adam (manusia) banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang (mau) bertaubat.” (Hadits dari sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه , dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 2499, cet. al-Ma’arif)

Dosa dan kesalahan adalah kepastian atas manusia. Namun, yang tercela ialah manakala seseorang menunda-nunda memperbaiki diri atau bahkan tidak mau menyadari kekurangannya.

Jangan sampai hilang dari ingatan kita, manusia dicipta untuk memberikan penghambaan semata-mata untuk Allah سبحانه وتعالى, sebagaimana firman-Nya:

♥ ♥ ♥ ♥ “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (adz-Dzariyat: 56)

Inilah hikmah penciptaan manusia. Oleh karena itu, barang siapa belum mewujudkan beragam penghambaan yang harus diberikan kepada Allah سبحانه وتعالى, bererti pada dirinya ada aib yang harus segera diubati. Sedikit dan banyaknya aib seseorang terkait dengan apa dan seberapa bentuk penghambaan kepada Allah سبحانه وتعالى yang belum terealisasikan. Apabila ingin mengetahui kekurangan diri kita lebih jauh di hadapan syariat, hendaknya kita menelaah ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi صلى الله عليه وسلم. Dengan cara demikian, kita akan tahu seberapa perintah Allah سبحانه وتعالى dan Rasul-Nya yang masih terabaikan dan seberapa pula larangan-Nya yang dilanggar.

Memang, terkadang aib diri tidak diketahui oleh pemiliknya sehingga tidak dihiraukan. Andai seorang mengetahui aibnya, belum tentu juga mau mengubatinya karena ubatnya pahit, yaitu siap menyelisihi hawa nafsunya. Seandainya dia mau bersabar dengan pahitnya ubat, belum tentu juga dia mendapatkan doktor yang ahli. Doktor yang ahli dalam hal ini adalah para ulama.

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

|| “Ketahuilah bahwa apabila seorang hamba dikehendaki kebaikan oleh Allah سبحانه وتعالى, Ia akan menjadikannya orang yang mengetahui kekurangannya. Orang yang celek mata hatinya niscaya tidak akan samar atasnya segala kekurangannya. Jika telah mengetahui kekurangan dirinya, dia akan bisa mengubatinya. Namun, sayang sekali, kebanyakan orang tidak tahu kekurangannya. Seorang dari mereka bahkan bisa melihat kotoran kecil yang melekat pada mata saudaranya, namun tidak bisa melihat batang pohon yang ada di matanya sendiri.”

Ada empat cara bagi orang yang ingin mengetahui tentang aib dirinya:

✔ 1. Duduk di hadapan syaikh (guru/orang alim) yang sangat paham tentang aib-aib jiwa.

✔ 2. Mencari teman yang jujur, yang celek mata hatinya, dan bagus agamanya.

✔ 3. Menggali kekurangan dirinya dari ucapan (yang keluar) dari musuhnya

✔ 4. Berbaur dengan manusia—yang baik—sehingga apa yang dipandang tercela oleh mereka dia akan menjauhinya. (Dinukil secara ringkas dari Kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin hlm. 203—205)

Disunting dari :Majalah AsySyariah Edisi 075
(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi, Lc.)
_____________
Shared By: bicara.hidayah 2 ( .. buat diriku ..)
Foto Illustrasi: Flickr.com
☆ ⋆ ☆ ⋆ ☆ ⋆ ☆
Grafiks: bicara.hidayah

No comments:

Post a Comment

Post a Comment