21 May 2014

KHALIFAH KINI DEWASA, BAYI AJAIB NON-MUSLIM AFRIKA

share dari link fb ~Bintu Habib Abd Wahab

KHALIFAH KINI DEWASA, BAYI AJAIB NON-MUSLIM AFRIKA

Muslimedianews ~ Kembali mengingat peristiwa tahun 90-an, dunia saat itu
gempar dengan berita besar seorang bayi berumur 2 bulan dari keluarga Katholik di Afrika yang menolak dibaptis. “Mama, unisibi baptize naamini kwa Allah, na jumbe wake Muhammad” (Ibu, tolong jangan baptis saya. Saya adalah orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, Muhammad).

Ayah dan ibunya, Domisia-Francis, pun bingung. Kemudian didatangkan seorang pendeta untuk berbicara kepada bayinya itu: “Are You Yesus?” (Apakah kamu Yesus?).

Kemudian dengan tenang sang bayi Syarifuddin menjawab:“No, I’m not Yesus. I’m created by God. God, The same God who created Jesus” (Tidak, aku bukan Yesus. Aku diciptakan oleh Tuhan, Tuhan yang sama dengan yang menciptakan Yesus). Saat itu ribuan umat Kristen di Tanzania dan sekitarnya dipimpin bocah ajaib itu mengucapkan dua kalimat syahadat.

Bocah Afrika kelahiran 1993 itu lahir di Tanzania Afrika, anak keturunan non Muslim. Sekarang bayi itu sudah remaja, setelah ribuan orang di Tanzania-Kenya memeluk agama Islam berkat dakhwahnya semenjak kecil. Syarifuddin Khalifah namanya, bayi ajaib yang mampu berbicara berbagai bahasa seperti Arab, Inggris, Perancis, Italia dan Swahili. Ia pun pandai berceramah dan menterjemahan al-Quran ke berbagai bahasa tersebut. Hal pertama yang sering ia ucapkan adalah: “Anda bertaubat, dan anda akan diterima oleh Allah Swt.”

Syarifuddin Khalifah hafal al-Quran 30 juz di usia 1,5 tahun dan sudah menunaikan shalat 5 waktu. Di usia 5 tahun ia mahir berbahasa Arab, Inggris, Perancis, Italia dan Swahili. Satu bukti kuasa Allah untuk menjadikan manusia bisa bicara dengan berbagai bahasa tanpa harus diajarkan.

Latar Belakang Syarifuddin Khalifah

Mungkin Anda terheran-heran bahkan tidak percaya, jika ada orang yang bilang bahwa di zaman modern ini ada seorang anak dari keluarga non Muslim yang hafal al-Quran dan bisa shalat pada umur 1,5 tahun, menguasai lima bahasa asing pada usia 5 tahun, dan telah mengislamkan lebih dari 1.000 orang pada usia yang sama. Tapi begitulah kenyatannya, dan karenanya ia disebut sebagai bocah ajaib; sebuah tanda kebesaran Allah Swt.

Syarifuddin Khalifah, nama bocah itu. Ia dilahirkan di kota Arusha, Tanzania. Tanzania adalah sebuah negara di Afrika Timur yang berpenduduk 36 juta jiwa. Sekitar 35 persen penduduknya beragama Islam, disusul Kristen 30 persen dan sisanya beragam kepercayaan terutama animisme. Namun, kota Arusha tempat kelahiran Syarifuddin Khalifah mayoritas penduduknya beragama Katolik. Di urutan kedua adalah Kristen Anglikan, kemudian Yahudi, baru Islam dan terakhir Hindu.

Seperti kebanyakan penduduk Ashura, orangtua Syarifuddin Khalifah juga beragama Katolik. Ibunya bernama Domisia Kimaro, sedangkan ayahnya bernama Francis Fudinkira. Suatu hari di bulan Desember 1993, tangis bayi membahagiakan keluarga itu. Sadar bahwa bayinya laki-laki, mereka lebih gembira lagi.

Sebagaimana pemeluk Katolik lainnya, Domisia dan Francis juga menyambut bayinya dengan ritual-ritual Nasrani. Mereka pun berkeinginan membawa bayi manis itu ke gereja untuk dibaptis secepatnya. Tidak ada yang aneh saat mereka melangkah ke Gereja. Namun ketika mereka hampir memasuki altar gereja, mereka dikejutkan dengan suara yang aneh. Ternyata suara itu adalah suara bayi mereka. “Mama usinibibaptize, naamini kwa Allah wa jumbe wake Muhammad!” (Ibu, tolong jangan baptis saya. Saya adalah orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, Muhammad).

Mendengar itu, Domisia dan Francis gemetar. Keringat dingin bercucuran. Setelah beradu pandang dan sedikit berbincang, mereka memutuskan untuk membawa kembali bayinya pulang. Tidak jadi membaptisnya.

Awal Maret 1994, ketika usianya melewati dua bulan, bayi itu selalu menangis ketika hendak disusui ibunya. Domisia merasa bingung dan khawatir bayinya kurang gizi jika tidak mau minum ASI. Tetapi, diagnose dokter menyatakan ia sehat. Kekhawatiran Domisia tidak terbukti. Bayinya sehat tanpa kekurangan suatu apa. Tidak ada penjelasan apapun mengapa Allah mentakdirkan Syarifuddin Khalifah tidak mau minum ASI dari ibunya setelah dua bulan.

Di tengah kebiasaan bayi-bayi belajar mengucapkan satu suku kata seperti panggilan “Ma” atau lainnya, Syarifuddin Khalifah pada usianya yang baru empat bulan mulai mengeluarkan lafal-lafal aneh. Beberapa tetangga serta keluarga Domisia dan Francis terheran-heran melihat bayi itu berbicara. Mulutnya bergerak pelan dan berbunyi: “Fatuubuu ilaa baari-ikum faqtuluu anfusakum dzaalikum khairun lakum ‘inda baari-ikum, fataaba ‘alaikum innahuu huwattawwaburrahiim.”

Orang-orang yang takjub menimbulkan kegaduhan sementara namun kemudian mereka diam dalam keheningan. Sayangnya, waktu itu mereka tidak mengetahui bahwa yang dibaca Syarifuddin Khalifah adalah QS. al-Baqarah ayat 54.

Domisia khawatir anaknya kerasukan setan. Ia pun membawa bayi itu ke pastur, namun tetap saja Syarifuddin Khalifah mengulang-ulang ayat itu. Hingga kemudian cerita bayi kerasukan setan itu terdengar oleh Abu Ayub, salah seorang Muslim yang tinggal di daerah itu. Ketika Abu Ayub datang, Syarifuddin Khalifah juga membaca ayat itu. Tak kuasa melihat tanda kebesaran Allah, Abu Ayub sujud syukur di dekat bayi itu.

“Francis dan Domisia, sesungguhnya anak kalian tidak kerasukan setan. Apa yang dibacanya adalah ayat-ayat al-Qur’an. Intinya ia mengajak kalian bertaubat kepada Allah,” kata Abu Ayub.

Beberapa waktu setelah itu Abu Ayub datang lagi dengan membawa mushaf. Ia memperlihatkan kepada Francis dan Domisia ayat-ayat yang dibaca oleh bayinya. Mereka berdua butuh waktu dalam pergulatan batin untuk beriman. Keduanya pun akhirnya mendapatkan hidayah. Mereka masuk Islam. Sesudah masuk Islam itulah mereka memberikan nama untuk anaknya sebagai “Syarifuddin Khalifah”.

Keajaiban berikutnya muncul pada usia 1,5 tahun. Ketika itu, Syarifuddin Khalifah mampu melakukan shalat serta menghafal al-Quran dan Bible. Lalu pada usia 4-5 tahun, ia menguasai lima bahasa. Pada usia itu Syarifuddin Khalifah mulai melakukan safari dakwah ke berbagai penjuru Tanzania hingga ke luar negeri. Hasilnya, lebih dari seribu orang masuk Islam.

Kisah Nyata Syarifuddin Mengislamkan Ribuan Orang

Kisah nyata ini terjadi di Distrik Pumwani, Kenya, tahun 1998. Ribuan orang telah berkumpul di lapangan untuk melihat bocah ajaib, Syarifuddin Khalifah. Usianya baru 5 tahun, tetapi namanya telah menjadi buah bibir karena pada usia itu ia telah menguasai lima bahasa. Oleh umat Islam Afrika, Syarifuddin dijuluki Miracle Kid of East Africa.

Perjalanannya ke Kenya saat itu merupakan bagian dari rangkaian safari dakwah ke luar negeri. Sebelum itu, ia telah berdakwah ke hampir seluruh kota di negaranya, Tanzania. Masyarakat Kenya mengetahui keajaiban Syarifuddin dari mulut ke mulut. Tetapi tidak sedikit juga yang telah menyaksikan bocah ajaib itu lewat Youtube.

Orang-orang agaknya tak sabar menanti. Mereka melihat-lihat dan menyelidik apakah mobil yang datang membawa Syarifuddin Khalifah. Beberapa waktu kemudian, Syaikh kecil yang mereka nantikan akhirnya tiba. Ia datang dengan pengawalan ketat layaknya seorang presiden.

Ribuan orang yang menanti Syarifuddin Khalifah rupanya bukan hanya orang Muslim. Tak sedikit orang-orang Kristen yang ikut hadir karena rasa penasaran mereka. Mungkin juga karena mereka mendengar bahwa bocah ajaib itu dilahirkan dari kelarga Katolik, tetapi hafal al-Quran pada usia 1,5 tahun. Mereka ingin melihat Syarifuddin Khalifah secara langsung.

Ditemani Haji Maroulin, Syarifuddin menuju tenda yang sudah disiapkan. Luapan kegembiraan masyarakat Kenya tampak jelas dari antusiasme mereka menyambut Syarifuddin. Wajar jika anak sekecil itu memiliki wajah yang manis. Tetapi bukan hanya manis. Ada kewibawaan dan ketenangan yang membuat orang-orang Kenya takjub dengannya. Mengalahkan kedewasaan orang dewasa.

Kinilah saatnya Syaikh cilik itu memberikan taushiyah. Tangannya yang dari tadi memainkan jari-jarinya, berhenti saat namanya disebut. Ia bangkit dari kursi menuju podium.

Setelah salam, ia memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi. Bahasa Arabnya sangat fasih, diakui oleh para ulama yang hadir pada kesempatan itu. Hadirin benar-benar takjub. Bukan hanya kagum dengan kemampuannya berceramah, tetapi juga isi ceramahnya membuka mata hati orang-orang Kristen yang hadir pada saat itu. Ada seberkas cahaya hidayah yang masuk dan menelusup ke jantung nurani mereka.

Selain pandai menggunakan ayat al-Quran, sesekali Syarifuddin juga mengutip kitab suci agama lain. Membuat pendengarnya terbawa untuk memeriksa kembali kebenaran teks ajaran dan keyakinannya selama ini.

Begitu ceramah usai, orang-orang Kristen mengajak dialog bocah ajaib itu. Syarifuddin melayani mereka dengan baik. Mereka bertanya tentang Islam, Kristen dan kitab-kitab terdahulu. Sang Syaikh kecil mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Dan itulah momen-momen hidayah. Ratusan pemeluk Kristiani yang telah berkumpul di sekitar Syarifuddin mengucapkan syahadat. Menyalami tangan salah seorang perwakilan mereka, Syarifuddin menuntun syahadat dan mereka menirukan: “Asyhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasuulullah.”

Syahadat agak terbata-bata. Tetapi hidayah telah membawa iman. Mata dan pipi pun menjadi saksi, air mata mulai berlinang oleh luapan kegembiraan. Menjalani hidup baru dalam Islam. Takbir dari ribuan kaum muslimin yang menyaksikan peristiwa itu terdengar membahana di bumi Kenya.

Bukan kali itu saja, orang-orang Kristen masuk Islam melalui perantaraan bocah ajaib Syarifuddin Khalifah. Di Tanzania, Libya dan negara lainnya kisah nyata itu juga terjadi. Jika dijumlah, melalui dakwah Syarifuddin Khalifah, ribuan orang telah masuk Islam. Ajaibnya, itu terjadi ketika usia Syaikh kecil itu masih lima tahun.

Para ulama dan habaib sangat mendukung dakwah Syaikh Syarifuddin Khalifah. Bahkan ulama besar seperti al-Habib ali al-Jufri pun rela meluangkan waktunya untuk bertemu anak ajaib yang kini remaja dan berjuang dalam Islam. (Dikutip dari buku Mukjizat dari Afrika, Bocah yang Mengislamkan Ribuan Orang; Syarifuddin Khalifah).

Koleksi video Syarifuddin Khalifah saat kecil hingga dewasanya bisa Anda lihat di saluran ini:http://www.youtube.com/channel/UCvBjZN8LVWwvPh4eLLxmY-w/videos

Sya’roni As-Samfuriy, Cikarang Bekasi 20 Mei 2014


blog saya satu lagi boleh dilawati :  http://jasminshahab205.blogspot.com/

19 May 2014

MENGHIDUPKAN HATI DENGAN AL QUR’AN

share dari link fb ~ Bicara Hidayah

MENGHIDUPKAN HATI DENGAN AL QUR’AN


HATI yang hidup menggerakkan potensi yang ada pada diri seseorang. Sebaliknya, hati yang mati membunuh segala bakat dan potensi diri. Sesuatu umat hanya boleh dibangunkan dengan menggerakkan potensi dirinya serta mengarahkannya kepada pembangunan. Dengan pengutusan Rasulullahu ‘alaihi wasallam, segala bakat dan potensi sahabat yang selama ini terpendam digerakkan dengan penghayatan اal Qur’an.


Hati yang hidup adalah hati yang subur dan bersedia untuk mendengar, melihat dan menerima kebenaran.



Hati yang hidup begini mempunyai nur, tenaga dan kekuatan. Ia sentiasa tunduk dan patuh kepada Allah dengan penuh khusyuk, takwa serta kasih dan simpati kepada sesama makhluk.


Hati yang dihidupkan dengan al Qur’an bersedia mematuhi segala perintah syarak.


Dengan mematuhi segala perintah syarak barulah kehidupan manusia akan sempurna. Bukankah Allah berfirman bermaksud:


“Sesungguhnya al Qur’an ini membimbing ke jalan yang lurus (benar).” (Surah al-Isra’, ayat 9) 


Perkara ini disebutkan juga dalam firman-Nya bermaksud:


“Taha (maknanya hanya diketahui Allah). Kami tidak menurunkan al Qur’an kepadamu supaya kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut kepada Allah; iaitu diturunkan daripada Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi?” (Surah Taha, ayat 1-4) 


Maka untuk menghidupkan hati dengan al Qur’an, kita memerlukan beberapa syarat:


PERTAMA, al Qur’an hendaklah dibaca dengan tenang dan khusyuk, dalam keadaan bersunyi diri (berkhalwah), terutama pada waktu tengah malam atau fajar (Subuh). Allah berfirman bermaksud:


“Sesungguhnya membaca al Qur’an pada waktu fajar (Subuh) itu disaksikan malaikat.” (Surah al-Isra’, ayat 78). 


KEDUA, membaca al Qur’an dengan pengamatan maknanya seperti yang dijelaskan dalam firman Allah bermaksud:


“Tidakkah mereka merenungi (tadabur) al Qur’an itu?” (Surah Muhammad, ayat 24) 


Pembacaan yang disertai dengan renungan dan pengamatan sedemikian akan membuka pintu hati seseorang untuk menerima kebenaran yang terkandung dalam al Qur’an.


Dengan perkataan lain, roh dari alam tinggi (alam Ketuhanan) yang dibawa oleh al Qur’an itu akan turun dan meresapi ke dalam hati pembaca al Qur’an kemudian ia menghidupkannya.


Dengan itu hati dapat mengenal kebenaran dengan mudah dan mencintainya. Nilai kebenaran dan kebaikan akan tumbuh subur dalam jiwanya. Lantas ia menyukai kedua-keduanya, tetapi membenci dan menentang kebatilan dan kejahatan.


KETIGA, sentiasa bersikap bersedia untuk menerima kebenaran al Qur’an sebelum membaca atau mendengarnya.


Manusia sering dikuasai oleh hawa nafsunya. Segala keinginan dunia (hingga membawa kepada kegilaan) adalah dinding (hijab) tebal yang menutup hati seseorang itu sehingga menyebabkan enggan menerima hidayah Allah melalui al Qur’an.


KEEMPAT, merealisasikan kehambaan (‘ubudiyyah) diri sewaktu membaca al Qur’an.


Perasaan ini akan dapat menimbulkan keazaman untuk merealisasikan segala ajaran al Qur’an yang dibaca itu dalam kehidupan. Ini semata-mata untuk mendapatkan keredaan Allah.


Dalam perkataan lain, pembacaan yang sedemikian akan menimbulkan keazaman untuk bermujahadah iaitu melawan kemahuan diri yang bertentangan dengan tuntutan ‘ubudiyyah kepada Allah.


Melaksanakan segala perintah Allah yang terkandung dalam al Qur’an adalah tafsiran makna ayat yang dibacanya itu di dalam kehidupan.


Untuk memastikan ia terus hidup dan segar, maka hati perlu sentiasa menjalani proses mujahadah (melawan segala kemahuan diri yang bertentangan dengan ajaran Islam).


Hati yang tidak bermujahadah, ertinya hati itu beku dan kotor. Hati yang kotor dan beku menyebabkan seseorang itu tidak ingin melakukan kebaikan, malah ia sentiasa melakukan perkara yang bertentangan dengan ajaran Islam.


Perkara ini dijelaskan dalam hadis Rasulullahu ‘alaihi wasallam bermaksud:


“Huzaifah berkata: Aku pernah mendengar rasulullahu ‘alaihi wasallam bersabda: Fitnah akan melekat di hati manusia bagaikan tikar yang dianyam secara tegak-menegak antara satu sama lain. Mana-mana hati yang dihinggapi oleh fitnah, nescaya akan terlekat padanya bintik-bintik hitam.


Begitu juga dengan hati yang tidak dihinggapinya, akan terlekat padanya bintik-bintik putih sehinggalah hati itu terbahagi kepada dua.


Sebahagiannya menjadi putih bagaikan batu licin yang tidak lagi terkena bahaya fitnah, selama langit dan bumi masih ada, manakala sebahagian yang lain menjadi hitam keabu-abuan seperti bekas tembaga yang berkarat, tidak menyuruh kebaikan dan tidak pula melarang kemungkaran, segala-galanya adalah mengikut keinginan.” (Riwayat al-Bukhari di dalam Kitab Iman, Hadis No. 207)

_________________

Shared by Bicara Hidayah

Kredit: nurjeehan.hadithuna.com
 


blog saya satu lagi boleh dilawati :  http://jasminshahab205.blogspot.com/ 

10 May 2014

Popia Basah

no.1... ambil sejemput adunan ni
no2... panaskan pan.. kemudian alihkan pan ni ke tempat lain tuk kurangkan panaskan supaya jari tak panas masa nak oleskan nanti
no.3... buat dr luar dulu kemudian baru abiska yang dalamnya 
no.4 mcm ni..buat nipis je ye 
no.5 panaskan balik kulit popia ni sekejap je
no.6..dah siap boleh dilapis2 ye insyaallah tak melekat
no.7 semua bahan2 dah ada
no.8 sayur rangup..lepas masukkan bawang ayam udang saya masukkan sayur sekejap je..utk mendapatkan hasil yangrangup..
no.9 sambal 
no.10... sapukan sedikit sambal pada kulit popia...kemudian masukan bahan sayur dan bawang goreng
 
utk hiasan saya taruk sambal udang tadi kat luar..buat cair sikit dr yang dlm dan ditabur dgn bijan bakar, bawang goreng dan kacang tumbuk... selamat mencuba
siap utk di makan :)

share dari link fb ~ Tahrunnisah Jali 

Popia Basah yang superb ni mmg sedap..kerangupan sayuran bila digigit dengan rasa sambal udang ni membangkitkan selera... anak2 pun suka..ingat budak2 kurang ngan kuih mcm ni... jazakillahu khairan pada kak umie myresipi atas resepi ni... cuma saya olah sedikit cara pembikinannya...supaya jari jemari tak terbako..insyaallah.  (rujuk gambar step by step)

Bahan untuk kulit*

2 cawan tepung gandum
1 biji putih telor
3/4 cawan air
2 sudu makan cuka
secubit garam

Bahan untuk inti** (boleh buat inti ikut suka atau cara tersendiri)
1/2 biji kobis - diricih halus
3 biji sederhana besar carrot - disagat halus
1 biji sederhana bawang besar
3 ulas bawang putih
1 sudu besar sos tiram
1 sudu makan udang kering + saya tambah sedikit isi ayam dihancurkan
garam secukupnya
minyak untuk menumis

**Blend bawang besar+bawang putih+udang kering. Panaskan sedikit minyak dan masukkan bahan blend tadi. Kemudian masukkan sos tiram + garam. Kemudian masukkan sayuran dan masak hingga layu.

Bahan untuk sambal***
15 tangkai cili kering
1 biji bawang besar
5 ulas bawang putih
1 sudu besar gula perang
2 sudu besar kicap manis
minyak untuk menumis
garam, perasa dan bawang goreng secukupnya

*** blend cili kering+bawang besar +bawang putih. Panaskan sedikit minyak dan tumis bahan blend hingga garing. Masukkan kicap dan gula perang + garam dan perasa.

Cara-cara

1. campurkan kesemua bahan dalam mangkok adunan
2. gaulkan (macam buat cokodok) kemudian tutup dan biarkan sebentar sekurang-kurangnya 1/2jam 
3. ambil sejemput dan lenserkan ke atas kuali leper yang di panaskan dulu 
kemudian alihkan ketempat lain biarkan sekejap supaya pan tu kurang sikit 
panasnya.. (contoh seterusnya - lihat gambar)
4. buat dari arah jam
5. mulakan dari tepi iaitu bahagian luar dulu
6. kemudian sapukan bahagian tengah dengan sisa tepung yang masih ada di tangan
7. setelah rata - bulat ..letak balik pan atas dpur biarkan sampai tepung masak sebentar
8. angkat tepung yang telah masak dan letakkan dalam pinggan . Boleh disusun berlapis2 (tak lekat)
9. ambil sekeping kulit popia dan sapukan dengan sedikit sambal
10. Letak satu sudu besar inti dan taburan bawang goreng
11. lipat macam biasa dan gulung
12. sedia untuk dimakan 

blog saya satu lagi boleh dilawati :  http://jasminshahab205.blogspot.com/

SOLAT DAN SABAR SEBAGAI PENOLONG

share dari link fb ~Bicara Hidayah

SOLAT DAN SABAR SEBAGAI PENOLONG

”Dan mintalah pertolongan (kepada) Allah dengan sabar dan sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ , ( yaitu ) orang-orang yang menyakini, bahwa mereka akan menemui Robb-nya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (Al Baqarah: 45-46 )

IBNU Katsir menjelaskan satu prinsip dan kaedah dalam memahami Al Qur’an berdasarkan ayat ini bahwa meskipun ayat ini bersifat khusus ditujukan kepada Bani Israel karena konteks ayat sebelum dan sesudahnya ditujukan kepada mereka, namun secara esensi bersifat umum ditujukan untuk mereka dan selain mereka. Bahkan setiap ayat Al Qur’an, langsung atau tidak langsung sesungguhnya lebih diarahkan kepada orang-orang yang beriman, karena hanya mereka yang mahu dan siap menerima pelajaran dan petunjuk apapun dari Kitabullah.

Maka peristiwa yang diceritakan Allah subhanahu wa ta’ala tentang Bani Israel, terkandung di dalamnya perintah agar orang-orang yang beriman mengambil pelajaran dari peristiwa yang dialami mereka. Begitulah kaedah dalam setiap ayat Al Qur’an sehingga kita bisa mengambil bahagian dari setiap ayat Allah subhanahu wa ta’ala. “Al-Ibratu Bi’umumil Lafzhi La Bikhusus sabab ” (Yang harus dijadikan dasar pedoman dalam memahami Al Qur’an adalah umumnya lafazh, bukan khususnya sebab atau peristiwa yang melatarbelakanginya).

Perintah dalam ayat di atas sekaligus merupakan solusi agar umat secara kolektif bisa mengatasi dengan baik segala kesulitan dan problematika yang datang silih berganti. Sehingga melalui ayat ini, Allah memerintahkan agar kita memohon pertolongan kepada-Nya dengan senantiasa mengedepankan sikap sabar dan menjaga solat dengan istiqamah. Kedua hal ini merupakan sarana meminta tolong yang terbaik ketika menghadapi berbagai kesulitan. Rasulullah salallahu 'alaihi wasallam selaku uswah hasanah, telah memberi contoh yang konkrit dalam mengamalkan ayat ini. Di dalam sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dijelaskan bahwa,

“Sesungguhnya Rasulallahu ‘alaihi wasallam, apabila menghadapai suatu persoalan, baginda segera mengerjakan solat.”

Huzaifah bin Yaman menuturkan,

“Pada malam berlangsungnya perang Ahzab, saya menemui Rasulullah salallahu 'alaihi wasallam sementara beliau sedang solat seraya menutup tubuhnya dengan jubah. Bila beliau menghadapi persoalan, maka beliau akan mengerjakan solat.“ 

Bahkan Ali bin Abi Thalib menuturkan keadaan Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam pada perang Badar,

“Pada malam berlangsungnya perang Badar, semua kami tertidur kecuali Rasulullah, beliau solat dan berdo’a sampai pagi“ 

Dalam riwayat Ibnu Jarir dijelaskan bagaimana pemahaman sekaligus pengamalan sahabat Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam terhadap ayat ini. Diriwayatkan bahwa ketika Ibnu Abbas melakukan perjalanan, kemudian sampailah berita tentang kematian saudaranya Qatsum, ia langsung menghentikan kendaraanya dan segera mengerjakan solat dua raka’at dengan melamakan duduk. Kemudian ia bangkit dan menuju kendaraannya sambil membaca, “Jadikanlah sabar dan solat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’“

Secara khusus untuk orang-orang yang beriman, perintah menjadikan sabar dan solat sebagai penolong ditempatkan dalam rangkaian perintah dzikir dan syukur.

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)Ku. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan solat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa bersama dengan orang-orang yang sabar“. (Al-Baqarah: 152-153) 

Dalam kaitan dengan dzikir, menjadikan sabar dan solat sebagai penolong adalah dzikir. Siapa yang berdzikir atau mengingat Allah dengan sabar, maka Allah akan mengingatnya dengan rahmat.

BEBAN BERAT AKAN JADI RINGAN JIKA DIIRINGI DENGAN SABAR DAN SOLAT

Masih dalam konteks orang yang beriman, sikap sabar yang harus selalu diwujudkan adalah dalam rangka menjalankan perintah-perintah Allah subhanahu wa ta’ala, karena beban berat yang ditanggungnya akan terasa ringan jika diiringi dengan sabar dan solat.

Ibnul Qayyim mengkategorikan sabar dalam rangka menjalankan perintah Allah Taala termasuk sabar yang paling tinggi nilainya dibandingkan dengan sabar dalam menghadapi musibah dan persoalan hidup.

Syekh Sa’id Hawa menjelaskan dalam tafsirnya, Asas fit Tafasir kenapa sabar dan solat sangat tepat untuk dijadikan sarana meminta pertolongan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Beliau mengungkapkan bahwa sabar dapat mendatangkan berbagai kebaikan, sedangkan solat dapat mencegah dari berbagai perilaku keji dan munkar, disamping juga solat dapat memberi ketenangan dan kedamaian hati. Keduanya (sabar dan solat) digandingkan dalam kedua ayat tersebut dan tidak dipisahkan, karena sabar tidak sempurna tanpa solat, demikian juga solat tidak sempurna tanpa diiringi dengan kesabaran. Mengerjakan solat dengan sempurna menuntut kesabaran dan kesabaran dapat terlihat dalam solat seseorang.

Lebih terprinci (rinci), Syekh Sa’id Hawa menjelaskan sarana lain yang terkait dengan sabar dan solat yang bisa dijadikan penolong. Puasa termasuk ke dalam perintah meminta tolong dengan kesabaran karena puasa adalah separuh dari kesabaran. Sedangkan membaca Al-Fatihah dan doa termasuk ke dalam perintah untuk meminta tolong dengan solat karena Al-Fatihah itu merupakan bahagian dari solat, begitu juga dengan do’a.

Memohon pertolongan hanya kepada Allah merupakan ikrar yang selalu kita lafazkan dalam setiap solat kita, “Hanya kepada-Mu-lah kami menyembah dan hanya kepadaMulah kami mohon pertolongan“. Agar permohonan kita diterima oleh Allah, tentu harus mengikuti tuntunan dan petunjuk-Nya. Salah satu dari petunjuk-Nya dalam memohon pertolongan adalah dengan sentiasa bersikap sabar dan memperkuat hubungan yang baik dengan-Nya dengan menjaga solat yang berkualitas. Disinilah solat merupakan cerminan dari penghambaan kita yang tulus kepada Allah.

ESENSI SABAR

Esensi sabar menurut Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dapat dilihat dari dua hal:

• Pertama, sabar karena Allah atas apa yang disenangi-Nya, meskipun terasa berat bagi jiwa dan raga. 
• Kedua, sabar karena Allah atas apa yang dibenci-Nya, walaupun hal itu bertentangan keinginan hawa nafsu. Siapa yang bersikap seperti ini, maka ia termasuk orang yang sabar yang Insya Allah akan mendapat tempat terhormat.

Betapa kita sangat membutuhkan limpahan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala dalam setiap aktivitas dan persoalan kehidupan kita. Adalah sangat tepat jika secara bersama-sama kita bisa mengamalkan petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala dalam ayat di atas agar permohonan kita untuk mendapatkan pertolongan-Nya segera terealisasi. Amin

Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA
________
Shared By Bicara Hidayah
Kredit: dakwatuna.com
 

blog saya satu lagi boleh dilawati :  http://jasminshahab205.blogspot.com/